Google kumpulkan hacker top dunia untuk hadang NSA

Saturday, July 26
Google kumpulkan hacker top dunia untuk hadang NSA

Dalam 'Project Zero' yang tengah dijalankannya, Google ternyata tidak akan berjuang sendirian untuk menangkis serangan-serangan cyber. Perusahaan yang didirikan tahun 1998 ini menggandeng hacker internasional untuk tuntaskan perang melawan ancaman internet, bahkan dari pemerintah sekalipun.

Isu penyadapan hingga monitoring ilegal yang dilakukan oleh badan inteligen NSA milik pemerintah Amerika Serikat telah mendorong Google merekrut hacker-hacker top dari seluruh dunia.

Meskipun Google telah memiliki banyak pakar internet security dalam Project Zero, mereka masih merasa perlu untuk menambah pasukan guna melindungi seluruh pengguna internet dari serangan cyber. Hacker-hacker ini diharapkan bisa ikut memantau dan menyelesaikan kerusakan kode yang tidak sengaja lahir ketika software dibuat.

Seperti yang dilansir oleh Daily Mail  pemimpin dari Project Zero, Chris Evans, menyatakan bila keamanan produk-produk Google terus dikembangkan, termasuk enkripsi SSL di Google Search, Gmail, Google Drive, hingga data-data yang lalu lalang lewat server Google.

Para hacker ini kemungkinan besar berkontribusi dengan meng-hack situs-situs Google sendiri agar celah-celah atau malware yang bisa dimanfaatkan oleh hacker lain atau agensi pemerintah dapat dihilangkan secepatnya.

Google nampaknya tidak mau kecolongan lagi setelah sebelumnya terjadi kasus tersebarnya virus Heartbleed ke seluruh jaringan internet di dunia. NSA sendiri dituduh telah menyembunyikan Heartbleed sebelum akhirnya ditemukan oleh pakar internet security.
Read more ...

Militer Indonesia Punya Potensi Menjadi “Silicon Valley” Asia Tenggara

Saturday, July 26


Kantor Google di wilayah Silicon Valley.

Silicon Valley merupakan sebutan populer untuk sebuah wilayah di Amerika Serikat yang menjadi pusat pengembangan teknologi komputasi dunia. Banyak raksasa teknologi seperti Intel, Microsoft, dan IBM mengawali kisahnya dari area ini.

Apakah mungkin di kota atau negara lainnya akan menjadi “the next Silicon Valley”? Berdasarkan laporan yang ditulis Sohan Murthy (Research Consultant, LinkedIn), kemungkinan itu bisa saja terjadi. Hal ini dilihat dari persentase jumlah profesional teknologi yang menghuni suatu kota atau wilayah, dilihat dari domisili mereka di profil LinkedIn.

Dengan menganalisis informasi yang tersimpan dalam lebih dari 300 juta profil anggota LinkedIn, pada gambar di bawah ini (klik untuk memperbesar) bisa dilihat kota-kota di dunia yang memiliki persentase jumlah profesional teknologi terbesar dari seluruh profesional yang ada.


Klik gambar untuk memperbesar

Bagaimana dengan Indonesia yang tidak masuk ke dalam daftar sepuluh besar tersebut? Ternyata LinkedIn menyebutkan bahwa Indonesia dikategorikan sebagai Hidden Gem alias “mutiara terpendam” di kawasan Asia Tenggara.

Hal ini didasari data bahwa kebutuhan dan peluang kerja untuk profesional di bidang software development di Indonesia masih belum banyak.

Padahal, anggota LinkedIn di Indonesia yang memiliki keahlian di dalam bidang tersebut mencapai lebih dari 7.000 anggota – lebih tinggi daripada Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Permintaan tertinggi justru terjadi di Singapura sehingga tidak mengherankan jika banyak talenta TI kita yang hijrah ke negeri tetangga itu.

Perkembangan jumlah profesional teknologi dari Indonesia di bidang software development juga tidak lepas dari peran institusi pendidikan yang terus-menerus menciptakan lulusan berkualitas. LinkedIn menemukan 8 universitas di Asia Tenggara yang paling banyak menciptakan lulusan baru di bidang ini, tiga di antaranya di Indonesia: Universitas Bina Nusantara, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung.
Read more ...

MH-60R Seahawk RAN: Lawan Tanding Terberat Heli AKS AS 565 Panther TNI AL

Saturday, July 26


Bila negara tetangga punya keunggulan pada teknologi kapal selam, maka sudah seharusnya Indonesia punya elemen AKS (anti kapal selam) yang memadai. Maklum saja, kekuatan kapal selam Indonesia kini tertinggal baik dari segi kualitas maupun kuantitas dibanding Singapura, Malaysia, dan Australia. Sementara pesanan kapal selam baru, dari kelas Changbogo Class diperkirakan baru akan diterima pada tahun 2015, itu pun kalau jadwal produksi dan penyerahan tidak molor.

Hingga tulisan ini dibuat, resminya TNI AL hanya mengoperasikan dua unit kapal selam Type 209 buatan Jerman yang dibeli awal tahun 80-an. Dari segi jumlah , jauh dari kebutuhan minimum, dimana idealnya TNI AL punya 6 unit kapal selam. Menyikapi agresifnya pembangunan kekuatan kapal selam negara tetangga, TNI AL memang telah menyiapkan racikan alustsista sebagai penghancur kapal selam lawan. Bicara tentang sista AKS, di elemen kapal permukaan (atas air), TNI AL punya bom laut, roket anti kapal selam RBU-6000 dan Bofors 375 mm. Masih ada lagi jenis torpedo SUT MK46 dan A-244-S. Kombinasi senjata tersebut menjadi suguhan maut di frigat, korvet, hingga KCT (kapal cepat torpedo) TNI AL.

Tapi menghadapi siluman bawah laut dengan teknologi senyapnya yang kian canggih, pasti menjadi tantangan berat bagi sista AKS di kapal-kapal perang TNI AL. Teknologi berkembang cepat, teknologi sonar yang pernah dibilang canggih 5 atau 10 tahun lalu, kini sudah dianggap usang dan tidak efektif untuk mengendus keberadaan kapal selam lawan yang menyusup ke wilayah laut NKRI. Nah, untuk menjabani aksi tersebut, elemen AKS dari udara juga mutlak harus dimiliki TNI AL, apalagi TNI AL adalah angkatan laut terbesar di Asia Tenggara.

Heli Panther diatas deck SIGMA class TNI AL



Selain armada kapal selam yang tertinggal dari negara tetangga, sayangnya elemen AKS dari udara untuk Indonesia juga masih lemah. Kekuatan udara AKS baru sebatas misi patroli dan pengintaian yang dilaksanakan gabungan antara TNI AL dan TNI AU. Sama sekali tidak ada kemampuan untuk melakukan tindakan untuk mengeliminir keberadaan kapal selam lawan dari udara, eksekusi untuk melawan kapal selam harus menunggu kedatangan kapal perang permukaan. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan masa lalu. Saat Indonesia masih jadi Macan Asia, kita pernah memiliki 9 unit heli AKS Mil Mi-4 Hound, tambah sangar lagi ada Gannet bauatan Inggris yang bisa melontarkan torpedo. Terakhir di masa Orde Baru, Puspenerbal TNI AL masih sempat mengoperasikan heli AKS jadul, yakni Westland Wasp, yang kini telah dipensiunkan.

Faktanya hampir satu dekade, Indonesia benar-benar minus elemen udara AKS. Baru kemudian, sejalan dengan program MEF (minimum essential force), Puspenerbal TNI AL akan kedatangan armada heli AKS keluaran anyar. Heli yang dimaksud adalah AS 565MB Panther buatan Eurocopter/Airbus Helicopter. Bila awalnya disebutkan yang dibeli 11 unit, tapi situs Janes.com (1/5/2014) menyebutkan bahwa pihak Airbus Helicopter akan menjual 16 unit AS 565 Panther kepada Indonesia, pola yang dijalankan nantinya heli akan dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia.

Menyambut datangnya Panther pastinya disambut suka cita, TNI AL kabarnya akan membentuk skadron baru sebagai wadah AS 565 Panther. Sebagai heli AKS, kodrat helikopter ini dipastikan sebagai sistem senjata pada armada frigat dan korvet TNI AL. Kandidat ‘rumah’ Panther sudah bisa diprediksi, diantaranya ada 4 korvet SIGMA (kelas Diponegoro),6 frigat kelas Van Speijk, 3 korvet kelas Bung Tomo (ex Nakhoda Ragam Class), dan 3 unit PKR (perusak kawal rudal)/frigat SIGMA 10514 yang tengah dibangun di Belanda. Kesemua kapal perang TNI AL diatas, dipandang punya helipad yang pas untuk Panther.

Lebih jauh seputar sosok AS 565 Panther TNI AL, Indomiliter.com telah mengupasnya secara detail pada artikel beberapa waktu yang lalu. Untuk melihat, silahkan klik tautan ini.

Polling Indomiliter
Lebih mendalam ke urusan sista AKS, wahana helikopter dengan mobilitasnya yang tinggi dan kemampuan multi peran, dipandang paling ideal untuk misi berburu kapal selam. Ironisnya, jika Indonesia baru dalam tahap mempersiapkan kehadiran sang Panther, lain halnya dengan negara-negara tetangga. Baik Malaysia, Singapura, dan Australia sudah lebih maju untuk urusan heli AKS. Adopsi heli AKS yang dimiliki mereka pun terbilang sangat tangguh dan battle proven untuk misi AKS.

Berangkat dari anggapan, bahwa potensi lawan terberat Indonesia berasal dari militer negara tetangga, maka bukan tak mungkin, di masa mendatang AS 565 Panther akan berhadap-hadapan dengan heli sekelas Super Lynx dan Seahawk yang kampiun di medan tempur. Untuk itu, Indomiliter.com sejak 13 Mei hingga 15 Juni 2014, telah menggelar polling dengan pertanyaan, “TNI akan membentuk skadron heli AKS dengan adopsi AS 565 Panther. Menurut Anda, siapakah yang bakal jadi lawan terberatnya?” Polling total melibatkan 629 responden dan dilakukan lewat pola one vote one IP (internet protocol).






Lawan yang kami ajukan disini adalah heli Westland Super Lynx 300 milik AL Malaysia (TLDM), Sikorsky S-70B Seahawk AL Singapura, dan Sikorsky MH-60R Seahawk AL Australia (RAN). Dari segi teknis dan kemampuan, boleh jadi diantara ketiga heli AKS tersebut tidak setanding dengan Panther, tapi dalam peperangan dan misi perang di lautan, mereka-lah yang bakal jadi lawan Panther TNI AL.

Sikorsky MH-60R Seahawk RAN (Australia)
MH-60R (Romeo) Seahawk milik RAN (Royal Australian Navy) dipercaya sebagai lawan tanding terberat AS 565 Panther dengan dipilih oleh 305 responden (48,49%). Dari sisi dukungan teknologi, MH-60R menjadi heli AKS tercanggih di dunia saat ini. Tentunya tak sulit bagi Australia untuk memperoleh heli canggih ini, lantaran statusnya sebagai sekutu AS dan dukungan anggaran militer yang memadai. Disamping itu, Australia juga merupakan operator UH-60A Black Hawk sejak lama. Seahawk adalah versi laut dari UH-60A Black Hawk. Dalam jajaran AL AS Seahawk mulai digunakan pada tahun 1983. Australian terlihat sudah wara wiri mengerahkan Black Hawk-nya dalam operasi militer (INTERFET) di Timor Timur pada tahun 1999.


MH-60R Australia


Personel AL Australia tampak mempersiapkan rudal Hellfire pada MH-60R.





Pada Seahawk, karakteristik disesuaikan kebutuhan misi di lautan, diantaranya baling-baling dan ekor bisa dilipat, senjata perang laut, dan misi anti kapal selam. Hidung Seahawk nampak datar tidak terlalu banyak benjolan. Tampak kubah kecil di bagian tengah agak ke bawah. Kubah itu berisi datalink antenna. Disebelah kiri dan kanan kubah terdapat bentuk kubus yang tidak lain berisi perangkat AN/ ALQ 142 ESM (electronic support measure).

Elemen kecanggihan MH-60R bisa terlihat dari adopsi teknologi FLIR (forwad looking infra red), kemampuan penglihatan malam (NVG capability), Secure VHF/UHF communication, Inertial navigation system, data link, Enhanced Advanced Flight Control System (AFCS), dan sistem komunikasi berbasis satelit. Heli yang serba digital ini dibekali empat display layar berukuran 10 inchi pada kokpit. Lalu bagaimana dengan kombinasi senjata yang dibawa? Si Romeo dari Negeri Kangguru ini jelas sudah dibekali rudal anti tank Hellfire dan dan torpedo MK54. Australia secara keseluruhan memesan 24 unit MH-60R, dengan pesanan terakhir dijadwalkan akan diterima pada pertengahan 2016. Berikut spesifikasi teknis Seahawk MH-60R.





Sikorsky S-70B Seahawk RSN (Singapura)
Seahawk S-70B milik AL Singapura/RSN (Republic of Singapore Navy) menjadi lawan tanding terberat kedua bagi AS 565 Panther TNI AL. S-70B dipilih oleh 235 responden (37,36%). Dari spesifikasi dan peran yang dijalankan, S-70B tidak beda dengan MH-60R Australia, hanya saja kemampuan S-70B untuk misi AKS tidak sehebat MH-60R. Singapura total memiliki 6 unit Seahawk S-70B, heli ini dalam tugasnya menjadi kelengkapan sistem senjata pada frigat tercanggih di Asia Tenggara, Formidable Class. Dan berikut spesifikasi teknis Seahawk S-70B.


Seahawk S-70B Singapura





Westland Super Lynx 300 TLDM (Malaysia)
Di luar dugaan, Super Lynx 300 TLDM (Tentara Laut DiRaja Malaysia) hanya menempati posisi terakhir sebagai lawan tanding AS 565 Panther TNI AL. Lynx 300 hanya dipilih 89 responden (14,15%). Reputasi Lynx tidak terbantahkan dalam kancah peperangan di lautan, ajang perang Malvinas membuktikan kehebatan generasi awal Lynx.

Kecanggihan Lynx 300 terlihat dari fasilitas di kokpit yang memudahkan pilot saat mengudara, yakni lewt adopsi radar pengukur ketinggian Honeywell AN/APN-198, penentu arah penerbangan otomatis Rockwell Collin 206 A, Kompas BAE GMM9 Gyrosyn, penunjuk jarak terbang Distance Measuring Equipment (DME), instrument pendarat Rockwell Collins VIR 31A VHF Omni Directional Ranger and Instrument Landing System (VOR/ILS), dan perangkat sistem navigasi taktis Rockwell Collins AN/ARN-118 Tactical Air Navigation System (TACAN).

Mesin Super Lynx 300 terdiri dari dua mesin Roll Royce/LHTEC CT800-4N yang bisa dioperasikan hingga 10.00 jam dan dapat dioperasikan dengan cukup mudah serta serba digital, Full Authority Digital Engine Control (FADEC). Sementara perangkat avioniknya terdiri dari peralatan serba modern seperti GPS, inertial navigation, AHRS, doppler, dan masih banyak lainnya. Kemampuan mesin makin maksimal karena didukung rotor utama yang terbuat dari bahan komposit khusus yang mampu memaksimalkan Lynx saat melakukan hovering atau bermanuver. Bahan tail rotor juga berasal dari komposit khusus. Peran Lynx 300 untuk misi di lautan mencakup pengintaian, patroli laut baik untuk menghantam kapal-kapal perang musuh yang ada di permukaan maupun kapal selam, dan tentunya handal untuk dukungan misi SAR. Berikut adalah spesifikasi teknis Super Lynx 300.




Super Lynx 300 AL Malaysia.


Bilang baling-baling dengan bahan komposit jadi keunggulan Lynx 300.



Bagaimana dengan bekal senjata Lynx 300 Malaysia? Ada dua pilihan yang menjadi andalan, untuk misi melumat kapal selam, Lynx 300 Malaysia disiapkan membawa 2 torpedo MK46/54, atau bila ingin menghancurkan target kapal permukaan, sudah tersedia rudal anti kapal Sea Skua buatan MBDA. Lepas dari itu, Lynx 300 juga dapat melontarkan bom laut, untuk misi anti pembajakan/teror laut, pada door gun bisa disisipkan SMB (senapan mesin berat) M2HB kaliber 12,7 mm, atau mau yang lebih ringan dengan FN MAG GPMG (general purpose machine gun) kaliber 7,62 mm. AL Malaysia kini mengoperasikan 6 unit Super Lynx 300, heli ini dipersiapkan sebagai bagian dari senjata kapal pada frigat Lekiu Class dan Kasturi Class. (Indomiliter)
Read more ...

Meneropong Kekuatan Militer Singapura dan Rudal

Saturday, July 26

F-16 D Block 52 AU Singapura

Dari segi geografis, negara pulau dengan luas daratan 704 Km2 ini menjadi negeri dengan luas wilayah termungil di Asia Tenggara. Tapi untuk urusan lainnya, seperti industri, ekonomi dan kemiliteran, Singapura jadi negara yang terkuat saat ini di kawasan Asia Tenggara. Arti terkuat disini dilihat dari keragaman alat perang serta kecanggihan yang menyertai.

Berkat menjadi “sekutu” AS dan bagian dari negeri persemakmuran Inggris, kemajuan militer Singapura sangat pesat, ditambih doktrin ala Israel yang selalu paranoid, menjadikan negeri pulau ini punya seabreg alutsista kelas atas, yang rasanya sulit ditandingi negara tetangganya. Di aspek kekuatan udara, RSAF (Republic of Singapore Air Force) memiliki F-15SG, F-16 C/D block 52, dan armada F-5, khusus untuk F-16 dan F-5, jumlah dan versi yang dimiliki RSAF lebih banyak dan jauh lebih maju ketimbang yang digunakan TNI AU. Untuk aspek kekuatan laut, RSN (Republic of Singapore Navy) lebih mencolok lagi, negeri yang luasnya tak lebih dari DKI Jakarta ini sudah punya 4 unit kapal selam modern kelas hanaSjoormen, bekas pakai AL Swedia, dan 2 unit kapal selam kelas Västergötland baru, juga produksi Swedia.

Di kelas frigat, RSN mengoperasikan 6 unit frigat multi role kelas Formidable, salah satu keunggulan frigat ini mampu membawa helikopter Sikorsky SH-60B Seahawk untuk misi anti kapal selam. Tambah sakti lagi, Singapura kini punya 20 unit helikopter AH-64D lowbow Apache. Belum lagi di aspek militer di darat, unit kavaleri Singapura sudah mengoperasikan MBT (main battle tank)sejak lama, diantaranya MBT jenis Centrion dan yang paling garang adalah Leopard 2A4 buatan Jerman.

Sikorsky SH-60B Seahawk AL Singapura

Sebagai sekutu dekat AS dan Israel, Singapura pun cukup sukses memajukan industri pertahanannya, bahkan satuan artileri medan TNI AD pun menggunakan Meriam Howitzer 155mm FH 2000 buatan Singapura. Dengan jajaran alutsista yang canggih, sudah diduga kemampuan rudal negeri ini juga paling handal di Asia Tenggara. Berikut etalase rudal milik Singapura.


Dari tabel kekuatan rudal diatas, nampak jelas Singapura sangat unggul untuk aspek rudal udara ke udara, rudal darat ke udara/anti pesawat, dan rudal udara ke permukaan. Sebagai contoh, untuk peran duel di udara, Singapura dibekali Sidewinder versi J/P/S/X untuk jenis SRAAM (short range air to air missile). Untuk jenis SRAAM Sidewinder bisa dibilang menjadi rudal ‘sejuta umat,’ Indonesia pun tak asing menggunakan jenis rudal penyengat panas ini.

Tapi melumpuhkan pesawat tak harus dengan duel jarak dekat, RSAF sudah punya AIM-120 AMRAAM untuk jenis BVRAAM (beyond visual range air to air missile), AMRAAM menjadi momok yang menakutkan dalam perang udara modern, rudal ini dapat melesat hingga jarak 70 Km dengan kecepatan 4 Mach. Pilot penembak tak perlu melihat sasaran secara langsung, karena sasaran berada di balik cakrawala, rudal ini biasanya dipasang pada F-16 dan F-15, dioperasikan dengan dukungan radar pendeteksi sasaran yang canggih.
AIM-9X Sidewinder, menjadi rudal andalan F-15SG dan F-16 AU Singapura

AMRAAM terbilang rudal yang battle proven, kiprah rudal ini sudah mulai terdengar sejak berhasil merontokkan MIG-23 milik Libya di bulan Januari 1993. Sebelumnya pada Desember 1992, MiG-25 milik Irak juga dihancurkan oleh AMRAAM yang dilepaskan dari F-16. Di setiap kehadiran militer AS, terutama yang terkait kampanye kekuatan udara, hampir tak lepas dari hadirnya AMRAAM, termasuk aksi militer AS di dalam mengamankan zona larangan terbang di Bosnia dan Kosovo.

Selain itu, RSAF masih diperkuat lini MRAAM (medium range air to air missile) dari jenis rudal AIM-7M Sparrow. Rudal dengan pemandu radar semi aktif ini dapat menjangkau sasaran hingga 50 Km dengan kecepatan 2,5 Mach. Seperti halnya AMRAAM, Sparrow juga dipasang pada F-15 dan F-16. Tak puas dengan rudal dari AS, RSAF masih punya Phyton-4 Derby, masing-masing adalah rudal jarak dekat dan BVRAAM buatan Isreal yang punya desain dan spesifikasi mirip Sidewinder dan Sparrow, rudal-rudal dari Israel ini juga memperkuat F-15 dan F-16. Dari paparan diatas, nampak RSAF sangat superior di kawasan Asia Tenggara. Baik rudal dan pesawat tempur yang dimiliki merupakan jenis battle proven.

Rudal Python-4 buatan Israel
Rudal Aster, salah rudal anti serangan udara andalan pada frigat kelas Formidable

Frigat berkemampuan stealth kelas Formidable

Singapura pun jadi negeri di Asia Selatan dengan pertahanan udara (anti serangan udara) terkuat. Dari tabel diatas, nampak berlapis jenis rudal yang dioperasikan RSA (Republic of Singapore Army), beberapa diantaranya, seperti RBS-70, Mistral, dan Rapier juga digunakan Arhanud TNI AD sebagai elemen SHORAD. Selebihnya Singapura mengoperasikan SAM jarak menengah, yakni rudal Hawk buatan Raytheon Corporation, AS. Hawk mampu menjangkau sasaran hingga 24 Km dengan ketinggian luncur 14 Km.

Antisipasi pertahanan udara di belantara gedung, Singapura juga menyiapkan mobile SAM SHORAD, untuk segmen ini dipercayakan pada RBS-70 yang ditempatkan pada ranpur Cadilage Cage V-200 dan Rafael Spyder (Surface-to-air PYthon and DERby) dari Isreal, Spyder adalah sistem perluncur rudal darat ke udara dari platform rudal Python dan Derby.

Di segmen rudal udara ke permukaan, Singapura juga nyaris tanpa tandingan di Asia Tenggara, selain versi Maverick yang beragam (B/D/G), Singapura juga punya etalase rudal anti tank kampiun, sebut saja TOW dan Longbow Hellfire yang dipasang pada heli tempur Apache. Tak lupa Singapura juga memiliki AGM-84A Harpoon, AGM adalah versi udara ke permukaan dari Harpoon.

Rudal Rafael Spyder, salah satu andalan Singapura dalam pertahanan udara

Rudal Hawk, salah satu SAM jarak menengah yang battle proven di kalangan NATO

Tanpa basa basi Singapura sudah memiliki rudal anti tank battle proven AGM-114L Longbow Hellfire yang menjadi senjata pamungkas heli serbu Apache

Dalam pemikiran awam, Singapura dengan luas wilayah sangat kecil sepertinya mudah untuk ditaklukan, tapi lain hal dalam analisa pertempuran modern, Singapura dengan supremasi udara bisa jadi mampu melakukan aksi ofensif terbatas.

Wilayah angkasa negeri Singa ini pun punya perisai sistem pertahanan udara dan rudal yang sangat baik. Kemampuan deteksi radarnya pun bisa menjangkau lalu lintas udara Indonesia. Beberapa jenis radar yang dimiliki Singapura mencakup Giraffe S3D buatan Ericsson, Swedia, radar ini juga digunakan oleh Indonesia. Dan yang lebih modern adalah radar AN/FPS-117 buatan Lockheed Martin, AS, radar pencari 3 dimensi ini dapat mengendus sasaran pada jarak 400 Km.

Dukungan rudal anti kapal tak kalah lengkapnya, beberapa frigat dan kapal patroli RSN sudah dibekali rudal RGM-84 Harpoon, Gabriel Mk-2 buatan Isreal, serta SAM SHORAD Mistra/Simbad. Bahkan RSN membekali frigat kelas Formidable dengan rudal Aster 15/30. Aster merupakan rudal besutan MBDA untuk misi anti serangan udara, dirancang untuk menghantam target kapal perang dan rudal.

Selain dikenal sebagai surganya koruptor Indonesia, negeri pulau ini juga menjadi ‘sombong’ dengan kerap memancing provokasi pada militer Indonesia, terutama menyangkut batas teritori wilayah laut dan udara. Awal Oktober tahun 2008, mantan Menteri Pertahanan, Yuwono Sudharsono pernah menyebutkan, bahwa Singapura adalah tetangga yang tidak jujur. Untuk mengamankan Selat Singapura dan Selat Malaka yang rawan perompakan, mereka bersemangat untuk melakukan patroli bersama TNI AL, tetapi jika untuk urusan penyelundupan pasir laut mereka tidak bersemangat dan jadi loyo karena menyangkut kepentingan sepihak yang menguntungkan mereka. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Read more ...

Militer Indonesia Berguru kepada Turki

Saturday, July 26



Jakarta – Salah satu prestasi dari Kementerian Pertahanan saat ini adalah mengukuhkan Kerjasama militer Indonesia dengan Turki, ke dalam tingkat undang-undang, dan Turki pun menyetujuinya. Hal ini menunjukkan Kementerian Pertahanan saat ini, sangat serius dalam tank nasional maupun roket pertahanan.

Dengan perjanjian kerjasama yang diikat oleh undang-undang, membuat Menteri Pertahanan yang baru nanti, tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama tersebut. Jika Menteri yang baru nanti hendak membatalkan atau tertarik untuk mengalihkan kerjasama ke negara lain, harus persetujuan DPR. Dan hal itu tidak mudah.

Di sinilah terbaca kecerdikan dan keseriusan Kementerian Pertahanan yang dipimpin Purnomo Yusgiantoro dan Wakilnya, Sjafrie Sjamsoeddin. Anda berdua dan tim, akan memetik buahnya di kemudian hari. Akan melihat Indonesia semakin tangguh dan mandiri dalam hal alutsista.

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia telah menyetujui Rancangan Undang Undang tentang Pengesahan Persetujuan Tentang Kerjasama Industri Pertahanan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Turki untuk disahkan menjadi Undang – Undang dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-32,(10/7) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung dan dihadiri oleh Pihak Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Luar Negeri Marty M. Natalegawa serta beberapa pejabat Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri dan instansi terkait lainnya.


Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menjabat tangan Wakil Ketua DPR Pramono Anung, usai pengesahan undang-undang kerjasama militer RI -Turki ( photo dmc.kemhan.go.id)
Menhan mengatakan dengan disetujuinya RUU tentang Pengesahan Persetujuan Tentang Kerjasama Industri Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Turki oleh DPR RI, maka telah terbentuk payung hukum bagi upaya kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Turki yang bertujuan membangun kapasitas pertahanan dan industri pertahanan yang menguntungkan bagi kedua negara.

Kerjasama di bidang industri pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Turki telah diwujudkan dalam bentuk Persetujuan tentang Kerjasama Industri Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Turki (Agreement of Defence of The Indutry Cooperation Between The Government of The Republic of Indonesia and The Government of The Republic of Turkey) yang ditandatangani di Angkara, Turki, pada tanggal 29 Juni 2010.

Beberapa bagian penting dalam RUU tentang Pengesahan Persetujuan Tentang Kerjasama Industri Pertahanan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Turki diantaranya:

1. Kerjasama dalam bidang industri pertahanan meliputi penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi ruang lingkup teknis dalam hal penelitian bersama, pengembangan, produksi dan proyek modernisasi, bantuan timbal balik dalam bidang produksi dan pengadaan produk industri dan jasa pertahanan, penjualan produk akhir, pertukaran informasi ilmiah dan teknis, partisipasi dalam pameran industri pertahanan dan simposium, serta penjualan atau pembelian yang saling menguntungkan.
2. Pembentukan Komite Bersama dalam kerja sama industri pertahanan.
3. Kewajiban untuk saling melindungi hak kekayaan intelektual, informasi, dokumen dan bahan-bahan yang bersifat rahasia.
4. Komitmen kedua negara untuk mengedepankan kepentingan, keamanan dan integritas masing-masing negara.
Read more ...

Korvet Baru Vietnam Teknologi Rusia

Saturday, July 26



Vietnam Naval Zone 2 menerima dua Korvet Class rancangan Rusia, Molniya (“Petir”), yang pertama kali dibangun oleh pembuat kapal Vietnam, 22/07/2014.

HQ-377 dan HQ-378 adalah salah dua dari enam kapal rudal modern yang dibangun oleh Ba Son Shipyard Vietnam, dengan teknologi Rusia.

Dua korvet diserahkan kepada Brigade 167 Kapal Artileri Rudal, di bawah Naval Zone 2 dari Angkatan Laut Rakyat Vietnam, yang berbasis di Nhon Trach, Dong Nai Province, 1120 km sebelah selatan ibukota Hanoi.

Kolonel Luong Viet Hung, komandan Angkatan Laut Zone 2 mengatakan penerimaan dari dua kapal menandai langkah baru dalam proses modernisasi Zona Naval 2 di angkatan laut Zone 2 dan Vietnam pada umumnya.


Korvet baru Molniya class, Vietnam, teknologi Rusia (photo tuoitre)
Kolonel Hung meminta perwira dan prajurit dari Brigade 167 dengan cepat menyebarkan semua program pelatihan agar para prajurit segera mampu mengendalikan operasi dari fasilitas dan senjata yang baru ini.

Kapal 1241,8 (Molniya) class ini, memiliki panjang 56, 9 meter dengan bobot air maksimum 563 ton dan kecepatan maksimal 42 knot. Kedua kapal memiliki jelajah berlayar 1700 mil laut dengan 44 awak, untuk masing-masing kapal.

Kapal kelas Molniya adalah korvet paling modern yang dimiliki Vietnam. Vietnam memesan dua Molniyas pada tahun 1999, dan memulai produksi sendiri dengan bantuan Almaz Central Design Bureau di St Petersburg Rusia.(The South Asia Weekly).
Read more ...

Wellcome New Fighters: Pesawat F-16 C/D-52ID TNI AU Tiba Di Tanah Air

Saturday, July 26



Penerbangan “Ferry” tiga pesawat F-16 C/D 52ID dari Anderson AFB Guam ke Lanud Iswahjudi Madiun telah mendarat dengan selamat pada pukul 11.25 WIB Jumat (25/7).  Pesawat-pesawat tinggal landas dari Guam pada pukul 09.07 local time (pkl 06.07 WIB) dengan menempuh waktu  5 jam 16 menit dan melaksanakan empat kali pengisian bahan bakar di udara oleh pesawat Tanker KC-10 dari Yokota AFB Jepang. Flight F-16 ini terbang pada ketinggian 26.000 kaki didampingi pesawat tanker dan selama dua jam pertama “menyelam” dalam awan sehingga terpaksa mengisi bahan bakar dalam awan. memasuki wilayah udara Indonesia disambut ibu pertiwi dengan cuaca cukup cerah, dimana pengisian bahan bakar terakhir dilaksanakan diatas Pulau Halmahera, selanjutnya pesawat tanker KC-10 ikut sampai jarak 150 km dari Makassar, kemudian balik kanan kembali ke Guam.



Bertindak sebagai leader penerbangan “Viper Flight” ini adalah Col. Howard Purcell dengan pesawat bernomer ekor TS-1625, selanjutnya  Maj. Collin Coatney/ Letkol. Firman Dwi Cahyono dengan pesawat TS-1620 dan terakhir  Ltc. Erick Houston/ Mayor Anjar Legowo menerbangkan pesawat TS-1623. Penerbangan bersejarah ini disambut oleh dengan pengalungan bunga oleh Panglima Koopsau II Marsdya TNI Abdul Muis yang didampingi Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI Donny Ermawan, Kepala Proyek “Peace Bima Sena II” Kolonel Tek Amrullah Asnawi dan para pejabat dari jajaran Kemhan, Mabes AU dan Lanud Iswahjudi.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI IB Putu Dunia dalam menyambut kedatangan pesawat F-16 C/D-52ID mengatakan bahwa Proyek “Peace Bima Sena II” merupakan bagian dari pembangunan kekuatan TNI AU secara bertahap, dan berlanjut sesuai rencana pembangunan Kebutuhan Pokok Minimal.  Kasau menegaskan kehadiran 3 unit pesawat dari total pengadaan   24 unit pesawat F-16 C/D-52ID dan ditambah program upgrade 10 unit pesawat F-16 A/B-15OCU diproyeksikan menjadi kekuatan utama Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru. Dua Skadron F-16 ini akan menjadi bagian dari strategi penggelaran dan pelibatan dua Komando Operasi Angkatan Udara.  Kedatangan pesawat-pesawat F-16 C/D-52ID ini diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan Air Power kita untuk menegakkan kedaulatan serta hukum demi kepentingan nasional, tidak saja di wilayah udara nasional namun juga di luar wilayah ZEE Indonesia. Selain menjadi tulang punggung operasi Pertahanan Udara namun juga sebagai penjamin keunggulan udara komando gabungan TNI dalam penyelenggaraan operasi darat, laut maupun di udara.

Kedatangan burung-burung besi ini sangat melegakan sesudah sempat tertahan selama lima hari di Eielson AFB, Alaska dan sehari di Andersen AFB Guam akibat permasalahan tehnis pada pesawat tanker udara KC-10 dari Travis AFB. Ketiga pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU memulai perjalanan panjang meninggalkan Hill AFB Utah pada hari Selasa (15/7) menuju Alaska. Baru pada hari Rabu (22/7) ketiga pesawat ini bisa meninggalkan Eielson AFB menuju Andersen  AFB, Guam yang ditempuh selama 9 jam 46 menit dengan sembilan kali pengisian bahan bakar diudara.

Sesuai rencana maka  mulai awal bulan Agustus 2014 enam orang instruktur penerbang F-16 A/B-15OCU TNI AU akan mulai melanjutkan latihan terbang konversi “differential flying training” F-16 C/D-52ID di Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi Madiun dibawah supervisi tiga instruktur penerbang  dari US Air Force Mobile Training Team.

Selanjutnya sesuai rencana pesawat-pesawat lainnya akan mulai berdatangan dan secara bertahap menjalani modifikasi pemasangan peralatan drag chute (payung rem). Konfigurasi awal pesawat F16C/D 52ID TNI AU memang belum dilengkapi dengan drag chute, sehingga modifikasi akan dilakukan tehnisi TNI AU dengan supervisi personil Lockheed Martin mulai kuartal pertama 2015.

Seluruh pesawat F-16 C/D ini adalah pesawat Block 25 USAF yang  sudah dibongkar total sebelum menjalani upgrading dan refurbished, baik kerangka “airframe” serta modernisasi sistem “avionic” dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah.    Rangka pesawat diganti dan diperkuat, cockpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua system lama di rekondisi atau diganti menjadi baru dan mission computer canggih baru sebagai otak pesawat  ditambahkan agar pesawat lahir kembali dengan kemampuan jauh lebih hebat dan ampuh setara dengan Block 50/52.

Modernisasi dan upgrade avionic  berpusat pada pemasangan Mission Computer MMC- 7000A versi M-5 standar Block 52+  sebagai “otak dan syaraf”  pesawat yang jauh lebih besar dan cepat kemampuannya dari system lama sehingga kemampuan avionic pesawat menjadi setara dengan F-16 block 50/52 Demikian pula kemampuan radar AN/APG-68 ditingkatkan sesuai system baru yang dipasang. Pemasangan Improved Modem Data Link 16 canggih untuk komunikasi data disamping Embedded GPS/ INS (EGI) block-52  yang menggabungkan fungsi  GPS dan INS untuk penembakan JDAM (Bomb GPS). Ditambah peralatan perang elektronika yaitu Electronic Warfare Management System AN/ALQ-213,  Radar Warning Receiver ALR-69 Class IV serta Countermeasures Dispenser Set ALE-47 untuk melepaskan  Chaffs/ Flares anti radar/ anti rudal.

Pelaksanaan Upgrade mesin pesawat  menjadi tipe   F100-PW-220/E  yang memiliki umur muda kembali, serta lebih awet dan lebih handal dari mesin sebel\]khususnya dengan pemasangan system DEEC (Digital Electronic Engine Computer) Grup 6 serta Augmentor Engine baru yang lebih mudah dirawat dan usia pakainya dua kali lebih lama.



Dalam urusan pertempuran udara  pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU ini cukup handal karena selaindketahui sebagai pesawat F-16 paling lincah juga dilengkapi rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder L/M/X dan IRIS-T  (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C untuk penembakan “Beyond Visual Range”.  Untuk menyerang sasaran permukaan pesawat dilengkapi kanon 20 mm, bomb standar MK 81/ 82/ 83/ 84, Laser Guided Bomb Paveway, JDAM (GPS Bomb), Bom anti runway Durandal, rudal AGM-65 Maverick K2, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar),  Improved Data Modem Link 16, Head Up Display layar lebar terbaru yang kompatibel dengan Helmet Mounted Cueing System dan Night Vision Google. Pesawat juga dilengkapi navigation dan targeting pod canggih seperti Sniper/ Litening untuk operasi tempur malam hari serta mampu melaksanakan missi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) untuk menetralisir pertahanan udara musuh.

Armada F-16 C/D 52ID TNI Angkatan Udara ini selanjutnya akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru. Pesawat yang telah dilengkapi kemampuan sistem avionic barat yang canggih ini dilengkapi senjata udara modern untuk melengkapi keunggulan daya jangkau operasi dan kecepatan yang membuat  pesawat ini sanggup untuk menghadang setiap penerbangan gelap atau menghantam sasaran udara dan darat.

Baik sasaran di luar atau dalam wilayah kedaulatan kita, pada saat siang atau malam hari di segala cuaca. Kelak pengalaman dan pemahaman dari aplikasi penggunaan tehnologi perang udara modern yang didapat dalam pengoperasian F-16 CD 52ID niscaya akan membantu kita untuk memperbaiki perencanaan, pengadaan, pelatihan serta doktrin dan taktik perang udara TNI AU.

Kita berharap pada saat pesawat tempur masa depan IFX (generasi 4.5) sudah siap dioperasikan maka seluruh prosedur, taktik, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang didapat dari pengoperasian pesawat F-16 C/D 52ID bisa  kita terapkan untuk menyamai atau  bahkan mengungguli kekuatan udara calon lawan dan pesaing negara kita.  Pesawat-pesawat canggih ini akan  menambah kekuatan  Air Power kita untuk menjaga Keamanan Nasional Indonesia. (tni-au.mil.id)
Read more ...

Mengapa Kapal Bisa Terapung Padahal Terbuat Dari Besi?

Friday, July 25




Apa yang ada dalam pikiran Anda sewaktu melihat kapal feri, tanker, speedboat? Bagaimana bisa kapal tersebut dengan daya angkut beban berton-ton, mengapung dan mengarungi laut. Padahal kapal tersebut berbahan baku besi dan kayu dimana massa-nya ribuan kilogram. Coba jatuhkan sebatang besi ke dalam air, pasti akan tenggelam. Apalagi jika dibandingkan tubuh kita yang memiliki berat 65 kg.

Perlu diketahui, prinsip dasar terapung atau tenggelamnya sebuah benda adalah perbandingan antara massa jenis benda tersebut dan massa jenis air. Prinsip dari itu semua adalah densitas atau massa jenis. Benda dapat mengapung apabila memiliki densitas yang lebih kecil.

Sebagai contoh minyak memiliki densitas yang lebih kecil dari air, maka minyak akan selalu berada di permukaan air. Es batu terlihat mengapung pada air, hal ini disebabkan karena es batu tersebut memiliki densitas yang lebih rendah dari air. Bukannya es batu merupakan air yang berbentuk padat, harusnya memiliki densitas yang sama? Memang betul sama-sama dari air, namun densitas merupakan fungsi suhu, sehingga apabila ada perubahan suhu maka terjadi perubahan densitas.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa, air memiliki densitas 1000 kg/m3, coba kita ambil bahan besi sebagai komponen utama dari kapal yang memiliki densitas 7900 kg/3. Dari data tersebut sudah terlihat bahwa besi memiliki densitas yang jauh lebih besar dari air, artinya harusnya besi itu tenggelam di dalam air.

Berikut rumus densitas : ρ=m/v dengan ρ = densitas ; m = massa; v = volume

Terlihat jelas bahwa densitas merupakan fungsi dari massa dan volume, apabila kita memperbesar volume benda namun massanya tetap, maka akan kita peroleh densitas yang lebih kecil.

Apabila besi yang akan buat sebagai kapal kita buat dengan volume 10 kali lebih besar, maka akan kita peroleh densitas 790 kg/m3. Untuk lebih mudah memahaminya, coba kita ambil contoh drum kosong yang apabila kita tutup rapat, apabila kita masukkan ke air maka akan mengapung, dengan syarat tidak ada kebocoran sehingga air tidak dapat masuk ke dalam drum tersebut.
Read more ...

Bila Perang Itu Akhirnya Tiba (Indonesia VS Malaysia)

Friday, July 25


Hari itu Jumat, 8 April 2005 jadi hari yang bersejarah bagi pola pandang pertahanan laut nasional. Pasalnya ini pertama kali Indonesia mengalami konflik perbatasan yang berujung pada insiden saling serempet antara kapal perang TNI AL dan AL Malaysia – TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia). KRI Tedong Naga 819, kapal patroli berbahan fiber glass buatan Dalam Negeri, terpaksa menyerempet KD Rencong sebanyak tiga kali di perairan Karang Unarang, Nunukan – Kalimantan Timur. Aksi KRI Tedong Naga bukan tanpa alasan, sebab KD Rencong sebelumnya berkali-kali melakukan manuver yang membahayakan pembangunan mercusuar di Karang Unarang.

Konflik batas wilayah dalam kasus blok Ambalat itu pun berlanjut dalam beberapa eskalasi, tercatat di bulan Februari 2007 terjadi dua kali aksi lintas batas secara sengaja oleh kapal perang Malaysia ke wilayah perairan RI. Pihak TNI AL sejak awal konflik Ambalat pun sudah mensiap siagakan Gugus Tempur Laut (Guspurla), satuan kapal perang yang terdiri dari KCR, korvet dan frigat yang selalu merespon cepat pada ‘provokasi’ TLDM. Dan patut diacungi jempol para prajurit TNI AL yang dalam suasana hati panas tapi tetap patuh pada SK Panglima TNI Nomor: Skep/158/IV/2005 tanggal 21 April 2005 yang menyatakan bahwa pada masa damai, unsur TNI AL di wilayah perbatasan RI-Malaysia harus bersikap kedepankan perdamaian dan TNI AL hanya diperbolehkan melepaskan tembakan bilamana setelah diawali adanya tembakan dari pihak Malaysia terlebih dahulu.

Meski saat ini konflik berhasil diredam, dan kedua pihak bersepakat untuk menjalankan patroli bersama, tapi bibit munculnya konflik terbuka masih terlihat nyata di masa mendatang. Malaysia tetap bersikukuh atas wilayah yang diakui sebagai teritori Indonesia di Ambalat, dan pastinya lagi Malaysia tetap mensiagakan armada kapal perangnya disana. Ibarat api dalam sekam, selain gelar kehadiran unsur militer baik pesawat tempur dan kapal perang antar kedua negara, pengadaan alat tempur jenis baru antar kedua negara serumpun ini kerap menjadi sentimen tersendiri.

Karena sejatinya antara Indonesia dan Malaysia punya hubungan dagang dan industri yang saling membutuhkan, konflik terbuka pun diperkirakan kecil terjadi, masing-masing rasanya telah memperhitungkan ‘dampak besar’ bila akhirnya meletus konflik senjata terbuka. Tapi apakah solusi perundingan menuju solusi damai selalu mujarab? Kita seyogyanya harus belajar dari lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia pada tahun 2002. Meski setiap konflik mempunyai multi aspek masalah, tapi pada hakekatnya kewajiban pemerintah untuk mempertahankan tiap jengkal wilayah NKRI. Mengutip kalimat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam peresmian Monumen Trikora dan Dwikora di Mabes TNI Cilangkap (26/2/2009), “Kalau kita ingin damai, maka kita harus siap berperang.”

Satu pandangan dengan pemikiran presiden SBY, penulis juga tidak berharap meletus peperangan antara Indonesia dengan negara tetangga, tapi memang untuk mewujudkan perdamaian kita harus menyiapkan skema bila terjadi peperangan, dan inilah yang menjadi kewajiban TNI untuk senantiasa menyiapkan alutsista yang memadai untuk tugas-tugas peperangan. Ambil contoh dari sengketa di blok Ambalat, bila dalam simulasi peperangan, maka elemen kekuatan udara dan laut dipastikan bakal menjadi penentu keberhasilan operasi. Dan dalam konteks peperangan di laut, keberadaan artileri kapal perang dipastikan akan bermain secara taktis dan strategis. (Dikutip dari Buku “The King of Artillery – TNI Angkatan Laut)
Read more ...

Meneropong Kekuatan Militer Malaysia dan Rudal Pertahanan Udara

Friday, July 25


Dari segi kekuatan militer, nampak postur militer Malaysia tak seheboh Singapura, meski demikian, dari segi eskalasi konflik, jutrsu Malaysia yang paling dominan bergesekan di lapangan dengan Indonesia. Sebut saja mulai mulai konflik perebutan pulau Sipadan – Ligitan pada tahun 2002, kemudian berlanjut pada memanasnya terkait batas wilayah di blok Ambalat, Kalimantan Timur. Bahkan masih ada persoalan lain pada patok perbatasan di darat.
F-18D Hornet AU Malaysia (TUDM)


Dengan potensi konflik yang besar, sejak beberapa tahun lalu Malaysia mulai menggenjot kemampuan tempurnya. Dari segi alutsista, yang cukup mencolok adalah pengadaan jet tempur MiG-29 N/NUB dari Rusia tahun 1995, dilanjutkan dengan pengadaan F/A-18D Hornet pada tahun 1997. Saat itu, boleh dibilang arsenal jet tempur Malaysia sudah lebih unggul dari Indonesia. Seolah mengikuti jejak TNI AU yang membeli Sukhoi, maka TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) juga membeli 18 unit Sukhoi Su-30MKMs yang sudah datang sejak 2007 silam.

Rudal AIM-7 Sparrow

Sedangkan dari aspek laut, TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia) membangun armada kapal selam sejak tahun 2002. Seri kapal selam yang dimiliki pun cukup canggih, yakni dari kelas Scorpene buatan Perancis/Spanyol. Dari 6 yang dipesan, setidaknya 2 unit Scorpene telah beroperasi penuh saat ini, yakni KD Abdul Rahman dan KD Abdul Razak. Dilihat dari senjata yang dibawa Scorpene, membuat kapal selam TNI AL, type 209 jadi ketinggalan daya deteren. Sebut saja Scorpene memiliki 6 tabung peluncur torpedo dengan 18 torpode yang dapat dibawa, plus yang istimewa, Scorpene bisa meluncurkan rudal SM-39 Exocet, varian Exocet yang khusus diluncurkan dari bawah permukaan laut untuk menghajar sasaran kapal di permukaan.

Entah bisa jadi dipicu oleh kemampuan Scorpene Malaysia yang bisa menembakkan rudal dari bawah permukaan laut, Mabes TNI AL pun kemudian mengharuskan kemampuan kapal selam TNI AL terbaru, nantinya harus memiliki kemampuan meluncurkan rudal anti kapal.

Exocet SM39

Dengan ragam jet tempur generasi mutakhirnya, TUDM memiliki beberapa rudal andalan, yakni AIM-120 AMRAAM yang mampu menghantam target pesawat lawan dari balik cakrawala. Rudal ini menjadi paket senjata yang mematikan bersama F/A-18 Hornet. Tidak hanya AMRAAM, bahkan F/A-18 TUDM dikabarkan juga dibekali AIM-7 Sparrow, rudal udara ke udara jarak menengah yang punya reputasi tinggi di kancah perang udara.

Informasi yang lebih baru, dikabarkan Kementrian Pertahanan Malaysia tengah mengajukan permohonan ke Kongres Amerika untuk bisa membeli 20 unit rudal AIM-9X2 Sidewinder Block II dengan nilai jual hingga 52 juta dollar. Dengan adanya AIM-9X Sidewinder, menjadikan postur kekuatan rudal udara Malaysia sebanding dengan Singapura.

AIM-120 AMRAAM di F-18 Hornet

AIM-9X merupakan versi termutakhir dari Sidewinder, mulai dikembangkan pada tahun 1996. AIM-9 mempunyai kemampuan first shot dan first kill yang lebih responsif. Rudal ini dilengkapi thrust vectoring yang terhubung ke guidance fins, artinya rudal dapat menguber target yang berbelok sekalipun. Radius putar AIM-9X mencapai 120 meter, dengan kemampuan ini, saat penembakan pesawat peluncur tidak lagi harus melakukan manuver untuk menyesuaikan dengan target. Cukup lepas AM-9X, selanjutnya rudal akan menguber target sendiri.

AIM-9X mulai dioperasikan jajaran militer AS pada tahun 2003, dan kini sudah digunakan oleh 40 negara. Untuk mengoperasikannya rudal ini diintegrasikan dalam joint mounted helmet mounted cuing system (JHMCS) buatan Boeing yang dikenakan pilot. Tak heran, AIM-9X menjadi rudal andalan untuk jet-jet tempur mutakhir AS, seperti F-22 Raptor dan F-15 Strike Eagle.

Rudal Sea Wolf

Di lini kekuatan laut, selain memiliki SM-39 Exocet, seperti halnya TNI AL, TLDM juga merupakan pengguna rudal anti kapal MM-38 Exocet, bahkan Malaysia juga menggunakan versi mutakhirnya MM-40 Block II Exocet yang ditempatkan pada frigat kelas Lekiu. Untuk memperkuat daya gempurnya frigat ini juga dibekali rudal Sea Wolf, rudal ini berperan ganda, yakni untuk anti serangan udara dan anti kapal. Sea Wolf sejatinya merupakan pengembangan dari rudal Sea cat yang tak lagi digunakan. Sea Wolf dapat menjangkau sasaran hingga 10 Km, beroperasi secara sea skimming.

Bicara tentang Yakhont, kabarnya Malaysia juga tertarik dengan Brahmos, alias versi Yakhont yang dibuat oleh India. Bila nantinya Malaysia jadi membeli Brahmos, maka skor kekuatan di segmen rudal jelajah anti kapal akan berimbang antara TLDM dan TNI AL. Perlu dicatat, pemerintah Malaysia dengan anggaran pertahanan yang besar lebih fleksibel untuk pengadaan alutisista. Hadirnya Brahmos/Yakhont sangat mungkin di Malaysia, mengingat negeri jiran ini kerap mengikuti langkah Indonesia, seperti halnya saat kita memesan Sukhoi di masa lalu.

Antara Brahmos dan Yakhont

Rudal Brahmos

Selama ini tidak sedikit persepsi publik yang menyatakan bahwa rudal Yakhont memiliki kesamaan dengan rudal Brahmos produksi India. Secara teknis, memang benar bahwa Brahmos memiliki cetak biru yang diambil dari Yakhont. Akan tetapi penting pula dipahami perbedaan kedua rudal jelajah tersebut.

Perbedaan mencolok dari kedua sistem senjata itu bukan sekedar diameter di mana rudal yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Rusia dan Indonesia itu lebih panjang daripada senjata yang digunakan oleh Angkatan Laut India, tetapi juga menyangkut sistem pandu. Yakhont mengandalkan sistem pandunya pada active radar dan inersial. Adapun Brahmos opsi pengendaliannya yaitu inersial untuk versi ASCM (anti ship cruise missile) dan INS/GPS bagi tipe SLCM (submarine launched cruise missile). (Haryo Adjie Nogo Seno)

Read more ...

Ketika Mobil Mewah Menjadi Senjata Perang

Friday, July 25
Zombie-proof Maybach Exelero concept



Jordania - Pernah membayangkan bagaimana sebuah mobil mewah disulap menjadi mobil khusus perang yang dibekali dengan persenjataan canggih dan mematikan? Ini bisa kita lihat pada Maybach Exelero yang menjadi tank pembunuh.

Adalah desainer asal Jordania yang menggarapnya, dengan biaya modifikasi yang mencapai 8 juta USD. Maybach Exelero ini disulap menjadi mobil sport mewah yang dilindungi dalam kemasan tank dengan senjata bermunculan disekujur tubuhnya.

Seperti dilansir Autoevolution hari ini (21/7) Baju plat besi yang tebal menutupi kursi penumpang dan akan melindungi siapa pun yang naik di dalamnya dan bumper yang terinspirasi dari Banteng yang membuat sosoknya semakin menakutkan.

Senjata yang dibenamkan antara lain pistol yang muncul dari kap mesin, senapan mesin ganda di belakang, dan peluncur roket, dan masih banyak senjata pamungkas lainnya, yang berguna tidak hanya untuk meyerang, tapi juga bertahan.

Sedangkan mesinnya sendiri, mengadopsi mesin Biturbo berkonfigurasi V12 dengan tenaga sebesar 700 dk. Hanya 4,4 detik untuk berakselarasi dari diam sampai 100 km perjam.
Read more ...

Lepas landas dan Mendarat Dimanapun: Rusia Perkenalkan UAV Amfibi

Thursday, July 24



Belum cukup memiliki rudal balistik, Rusia mengembangkan pesawat tak berawak (UAV) amfibi yang merupakan hibridisasi antara UAV dengan hovercraft amfibi. UAV unik yang tidak memerlukan lapangan untuk lepas landas dan mendarat ini ditampilkan saat pameran teknologi Innoprom-2014 di Yekaterinburg, Rusia tengah, 9-12 Juli 2014.

UAV yang dijuluki Chirok ini dikembangkan oleh perusahaan Rusia Rostec, dan baru kali ini dipamerkan di hadapan publik. Chirok mampu mendarat di medan apapun, termasuk di salju, pasir, air, rawa atau daerah apapun yang relatif datar.

Prototipe Chirok yang ditampilkan ini masih dalam ukuran 1:5, yang sengaja dibuat untuk menguji kinerja aerodinamisnya di wind tunnel (terowongan angin) di Central Aero-hydrodynamic Institute di kota Zhukovsky, Rusia.



Pada 2015 nanti, UAV Chirok dengan ukuran penuh akan memulai uji penerbangan. Chirok akan memiliki rentang sayap 10 meter, dan memiliki bobot lepas landas maksimum sekitar 700 kg, yang mana 300 kg nya merupakan muatannya. Mampu terbang di ketinggian 6.100 meter, UAV ini diharapkan mampu melakukan penerbangan sejauh 2.500 km. Informasi mengenai sistem propulsi Chirok, masih belum dipublikasi.

UAV amfibi yang bodinya mirip dengan kepala paus pembunuh ini dibuat secara eksklusif dari bahan komposit (kemungkinan besar utamanya dari serat karbon namun hal ini belum dikonfirmasi. Sedangkan membran bantalan udaranya (air cushion) terbuat dari bahan ultra-modern yang dikembangkan oleh ahli Rusia dan dipatenkan oleh Rostec Corporation (informasi dari Russian Times, Rostec sendiri tidak mengonfirmasi hal ini.




Meskipun saat ini UAV amfibi Chirok akan digunakan masih dalam ruang lingkup sipil, seperti pemantauan kebakaran hutan, daerah bencana, lalu lintas, pengiriman kebutuhan untuk rig minyak yang jauh, namun konstruksinya sudah memungkinkan untuk digunakan oleh militer.

Chirok mampu membawa bom, roket dan senjata presisi tinggi, seperti rudal berukuran kecil. Dan tidak sepeti kebanyakan UAV, Chirok memiliki inner space (ruang dalam) yang pas untuk membawa senjata internal, sehingga tidak akan mengganggu visibilitas dan sifat aerodinamisnya. Karena Chirok berukuran sedang dan terbuat dari bahan komposit, Chirok juga diyakini berkarakteristik siluman yang sangat baik.

Diharapkan pada pameran dirgantara MAKS-2015 di Moskow nanti, UAV Chirok sudah akan tampil dalam ukuran penuh. Produksinya sendiri secepatnya akan dimulai pada 2016.
Read more ...

Flight F-16 C/D TNI AU Tiba di Guam Menuju Tanah Air

Thursday, July 24


Akhirnya tiga pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU dengan call sign "Viper Flight," dari  Eielson AFB (Air Force Base) Alaska berhasil mendarat dengan selamat di Andersen AFB Guam. Pesawat tinggal landas dari Eielson AFB pada tanggal 22/7 pukul 11.14 waktu Alaska (tgl.22/7 pukul 02.00 WIB) dan mendarat di Guam pada pukul 15.00 waktu Guam (tgl 23 pukul 12.00 WIB). Pesawat leader adalah sebuah F-16 C dengan nomer TS 1625 yang diterbangkan Col. Howard  Purcel,  pesawat kedua adalah sebah pesawat F-16 D dengan nomer TS 1620 yang diawaki Maj Collin Coatney / Ltk.Firman Dwi Cahyono dan pesawat terakhir juga sebuah F-16 D dengan nomer TS 1623 yang diawaki Ltc. Erick Houston/ May.Anjar Legowo.

Viper Flight telah menempuh perjalanan dari Eielson AFB Alaska meneuju Andersen AFB Guam  selama 9 jam 46 menit dengan dikawal pesawat tanker KC-10 dari Travis AFB. Semula flight terbang pada ketinggian 25.000 kaki dengan kecepatan 0.75 MN (Mach Number) atau sekitar 450 KTAS (Knots True Air Speed) melewati Samudra Pasifik yang luas. Namun penerbangan terpaksa naik keketinggian 27.000 kaki untuk menghindari awan dan turbulensi. Selanjutnya pada dua jam terakhir kecepatan terpaksa ditambah agar tiba sesuai rencana. Selama perjalanan telah dilaksanakan 9 kali air to air refueling. Saat mendarat dalam kondisi hujan ringan (light rain) namun setelah landing menjadi cukup lebat (shower rain).

Setelah sebelumnya tertahan selama 5 hari di Eielson karena kerusakan pada pesawat tanker maka besok tanggal 23 Juli akan dilaksanakan penerbangan leg terakhir dari Guam langsung menuju Lanud Iswahyudi Madiun dengan rencana waktu tempuh 5 jam 16 menit. Ketiga pesawat direncanakan  akan mendarat pada pukul 11.16 di Lanud Iswahjudi Madiun pada tanggal 24 Juli 2014, dan akan diterima oleh Kepala Staf Angkatan Udara dan pejabat teras TNI AU dan Kemhan untuk selanjutnya akan langsung diparkir di hangar Skadron Udara 3 “The Dragon Nest” untuk inspeksi.




Setelah libur Idul Fitri maka  enam instruktur penerbang F-16 akan mulai melanjutkan latihan terbang konversi F-16 C/D nya di Lanud Iswahyudi Madiun mulai bulan Agustus 2014 dibawah supervisi empat instruktur penerbang  dari US Air Force Mobile Training Team. Rencananya pesawat-pesawat ini akan menjalani modifikasi pemasangan peralatan drag chute karena konfigurasi awal pesawat F16C/D-52ID tidak dilengkapi dengan drag chute (rem payung) yang dilakukan tehnisi TNI AU dibantu personil Lockheed Martin pada kuartal pertama 2015.

Seluruh pesawat sebelumnya menjalani upgrading dan refurbished rangka “airframe” serta modernisasi sistem “avionic” dan persenjataan di Ogden Air Logistics Center Hill AFB, Utah.    Rangka pesawat diperkuat, cockpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang, semua system lama di rekondisi atau diganti menjadi baru dan mission computer canggih baru sebagai otak pesawat  ditambahkan agar lahir kembali dengan kemampuan jauh lebih hebat dan ampuh.

Modernisasi dan upgrade avionic dan engine pesawat dilaksanakan untuk  meningkatkan kemampuan menjadi setara dengan F-16 block 50/ 52, khususnya dengan pemasangan “otak dan syaraf”  pesawat yaitu  Mission Computer MMC- 7000A versi M-5 yang juga dipakai Block 52+, demikian pula radar AN/APG-68 (V) ditingkatkan kemampuan sesuai system baru yang dipasang. Juga Improved Modem Data Link 16 untuk komunikasi data canggih,  Embedded GPS/ INS (EGI) block-52  yang menggabungkan fungsi  GPS dan INS dan berguna untuk penembakan JDAM (Bomb GPS),  Electronic Warfare Management System AN/ALQ-213,  Radar Warning Receiver ALR-69 Class IV serta Countermeasures Dispenser Set ALE-47 untuk melepaskan  Chaffs/ Flares anti radar/anti rudal.  




Untuk seluruh mesin pesawat  tipe   F100-PW-220/E  telah menjalani  upgrade menjadi baru kembali, khususnya dengan pemasangan system DEEC (Digital Electronic Engine Computer) baru dan Augmentor Engine baru yang usia pakainnya dua kali lebih lama.

Dalam urusan pertempuran udara  pesawat ini cukup handal karena disamping lincah  F-16 C/D 52ID TNI AU juga juga dilengkapi rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder L/M/X dan IRIS-T  (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C .  Untuk menyerang sasaran permukaan dilengkapi kanon 20 mm, bomb standar MK 81/ 82/ 83/ 84, Laser Guided Bomb Paveway, JDAM (GPS Bomb), Bom anti runway Durandal, rudal AGM-65 Maverick K2, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar),  Improved Data Modem Link 16, Head Up Display layar lebar terbaru yang kompatibel dengan Helmet Mounted Cueing System dan Night Vision Google. Pesawat juga dilengkapi navigation dan targeting pod canggih seperti Sniper/ Litening untuk operasi tempur malam hari serta mampu melaksanakan missi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) untuk menetralisir pertahanan udara musuh.

TNI Angkatan Udara merencanakan armada baru F-16 C/D 52ID ini akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru. Dilengkapi kemampuan sistem avionic canggih dan senjata udara modern serta keunggulan daya jangkau operasi membuat  pesawat ini sanggup untuk menghadang setiap penerbangan gelap atau menghantam sasaran,  baik di luar atau dalam wilayah kedaulatan kita, pada saat siang atau malam hari. Pengalaman dan pemahaman dari aplikasi penggunaan tehnologi perang udara modern yang didapat dalam pengoperasian F-16 CD 52ID niscaya akan membantu kita untuk memperbaiki perencanaan, pengadaan, pelatihan serta doktrin dan taktik perang udara TNI AU.

Diharapkan pada saat pesawat tempur masa depan IFX sudah siap dioperasikan maka berbagai prosedur, taktik, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang didapat dari pengoperasian pesawat F-16 C/D 52ID bisa  kita terapkan untuk menyamai dan bahkan mengungguli kekuatan udara calon lawan dan pesaing negara kita.  Pesawat-pesawat canggih ini akan  menambah kekuatan tempur  TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung Air Power (Kekuatan Dirgantara) Negara kita demi  menjaga Keamanan Nasional Indonesia.
Read more ...

Klaim: Indonesia Cocok Dengan Rudal Buatan Tiongkok

Thursday, July 24


Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan hubungan RI dan Tiongkok semakin intens dalam kerjasama di bidang industri pertahanan. Salah satunya adalah kegiatan pengadaan alutsista berupa misil rudal.

Menurut Purnomo, TNI terutama Angkatan Laut sudah merasa cocok dengan rudal buatan China. "Pas latihan gabugan di Jawa Timur. Saya sendiri hadir melihat kemampuan rudal China tersebut. Dari temen-temen di TNI terutama Angkatan Laut itu merasa pas dan cocok dengan rudal-rudal China. Dari segi kualitas dan cost," ujar Purnomo di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis, (24/7/2014).

Purnomo menambahkan untuk misil Rudal, pihaknya serius terkait kerjasama pengadaan alutsista ini. Dia menekankan ada empat kerjama di bidang ini dengan prioritas pengadaan rudal jarak pendek dan jarak menengah. Kerjasama ini direalisasikan antara Kementerian Pertahanan RI dengan State Administration for Science, Technology and Industry for National Defence (SASTIND).

"Jadi mereka dan kami betul-betul menjalin kerjasama ini. Ada empat kerjasama pengadaan yaitu rudal jarak pendek dan rudal jarak menengah," ujar mantan Menteri ESDM itu.


Adapun sejauh ini produk rudal yang digunakan TNI di antaranya Rudal C-802, C-705, Rudal QW-1, dan QW-3. Saat ini, Kementerian Pertahanan dan SASTIND terus berkomunikasi intens untuk melakukan produksi bersama dan transfer teknologi.

Sementara, hari ini Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di kantornya mendapat kunjungan Vice Chairman of the Central Military Commission PLA Tiongkok, Jenderal Fan Changlong. Kunjungan ini sebagai bentuk implementasi kerjasama strategis di bidang pertahanan antara RI - Tiongkok.

Harapan kita semua semoga kelak Indonesia bisa menerima alih teknologi dari cina agar ke depan mampu meningkatkan produksi dan kualitas rudal-rudal dalam negeri.
Read more ...

Empat Misi/Tujuan Dasar Jenderal China ke Indonesia

Thursday, July 24



Wakil Ketua Komisi Pusat Militer Republik Rakyat China Jenderal Fan Changlong berkunjung ke Indonesia pada 23 Juli 2014. Dalam kunjungannya ke RI untuk kali pertama ini, Fan membawa empat misi ketika nanti bertemu dengan beberapa pejabat tinggi Indonesia.

Demikian pemaparan yang disampaikan oleh juru bicara Delegasi dan Direktur Kantor Bidang Luar Negeri Kementerian Pertahanan China, Mayor Jenderal Guan You Fei dalam sesi pertemuan terbatas dengan media, termasuk VIVAnews di Hotel Shangrilla pada Rabu, 23 Juli 2014.

Selain membahas isu pertahanan, Fan turut berdiskusi mengenai kebijakan luar negeri China. "Jenderal Fan dijadwalkan akan berada di Indonesia selama tiga hari hingga tanggal 25 Juli 2014. Tujuan secara umum, kami ingin mempererat kemitraan antara China dan Indonesia yang telah berada di tahap kemitraan yang strategis," ujar Guan.

Selama berada di Indonesia, lanjut Guan, Fan akan bertemu dengan beberapa pejabat Indonesia, antara lain Wakil Presiden Boediono, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Panglima TNI Moeldoko.

"Melalui kunjungan ini, kami ingin mengimplementasikan konsensus kedua belah pihak dan kerjasama kedua militer kedua negara," ujar Guan.

Ada pun empat titik fokus misi Fan ke Indonesia, lanjut Guan, yaitu satu, mempererat kunjungan tingkat tinggi dan pertukaran personil kedua negara.

"Jenderal Fan akan mengusulkan untuk lebih sering meningkatkan kunjungan kedua pihak. China pun siap menerima kunjungan Menhan Purnomo jika berkunjung ke Beijing tahun ini," katanya.


Kedua, meningkatkan kerjasama di bidang militer, khususnya melawan aksi pembajakan dan mengamankan jalur pelayaran.

Sementara fokus ketiga, China ingin meningkatkan latihan militer bersama. Sebelumnya, lanjut Guan, sudah terjalin tiga kali latihan militer kedua negara.

"Tahun ini akan digelar latihan militer bersama keempat. Rencananya, latihan akan digelar di China pada bulan Oktober," kata Guan.

Melalui latihan militer bersama itu, diharapkan jumlah personel yang berpartisipasi bisa lebih banyak.

Keempat, Fan ingin meningkatkan hubungan bilateral. Selama ini, imbuh Guan, China telah terlibat dalam forum Menteri Pertahanan ASEAN Plus.

Fan juga akan membahas beberapa isu terhangat baik di tingkat regional maupun global.

Rencananya hari Kamis, 24 Juli 2014 Fan akan bertemu dengan Menhan Purnomo pada pukul 09.00 WIB di Kemenhan.
Read more ...